Tips Rawatan Murai Batu Bakalan Agar Sehat dan Rajin Bunyi

  • Whatsapp

Murai batu bakalan banyak dicari karena hargaya yang terjangkau semua kalangan. Meski begitu perawatannya bisa saja lebih mahal karena salah sedikit saja burung bisa sakit atau bahkan mati. Namun jika dilakukan dengan cara yang tepat, murai batu bakalan itu pun akan menjadi burung yang sehat dan rajin bunyi sehingga memberikan kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya.

Sebagian besar murai batu yang dijual di pasaran berasal dari penangkaran dan tangkapan alam atau burung bakalan. Dibandingkan murai batu ternakan yang rata-rata sudah beradaptasi dengan pakan dan lingkungan, burung bakalan tentu akan membutuhkan proses lebih lama untuk bisa beradaptasi dengan pakan, manusia, dan lingkungannya.

Salah perhitungan sedikit saja dalam perawatannya, murai batu bakalan bisa stress yang berujung pada burung sakit atau bahkan mati. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan yang cukup jika kicaumania ingin memelihara burung yang masih bakalan tersebut.

Ada beberapa kriteria dalam pemilihan burung murai bakalan yang baik. Hal ini perlu diketahui, khususnya jika ingin memelihara burung yang sehat, aktif, dan rajin bunyi. Adapun ciri-ciri murai batu bakalan yang baik adalah sebagai berikut:

  • Burung terlihat sehat dan lincah (tidak malas-malasan atau tiduran di tenggeran)
  • Tatapan matanya tajam, melotot dan penuh waspada.
  • Jika bergerak, suara ketekannya akan terdengar lebih kencang.
  • Kedua sayap mengapit rapat, tidak terkulai (diturunkan) dengan bulu-bulu yang masih lengkap.
  • Mempunyai kaki yang kokoh dan kuat mencengkeram tenggerannya.
  • Tidak terdapat kotoran menempel pada bagian pangkal ekor atau kloakanya.
  • Burung tidak cacat, terutama di bagian sayap, paruh, mata, dan kaki-kakinya.

Jika sudah mendapatkan murai batu bakalan dengan ciri-ciri di atas, maka langkah selanjutnya adalah melakukan perawatan harian yang rutin dan teratur.

Berikut perawatan murai batu bakalan agar tetap sehat dan rajin bunyi:

  • Menyediakan sangkar yang bersih.
  • Memberikan pakan full serangga (EF) terutama kroto dan jangkrik pada dua hari pertama perawatannya.
  • Memberikan air minum yang sudah ditetesi dengan multivitamin . Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kondisinya agar tetap segar, sehat, dan aktif sepanjang hari.
  • Tidak memandikan murai batu bakalan pada minggu-minggu pertama perawatannya untuk mencegah burung terlalu stres.
  • Burung tidak dimandikan tetapi cukup dijemur saja di bawah sinar matahari pagi selama 1 jam.
  • Jauhkan burung dari burung peliharaan lain yang memiliki sifat teritorial seperti kacer maupun murai batu lainnya.
  • Berikan full kerodong pada sore dan malam hari.

Perawatan setelah burung mulai beradaptasi dengan sangkar dan lingkungan rumah:

Melatih murai batu bakalan agar mau makan voer, dengan cara berikut:

  • Mencampurkan satu sendok makan voer basah (voer halus campur air) dengan kroto, lalu diaduk hingga bercampur merata setelah itu pada bagian atasnya kembali ditaburi sedikit kroto untuk pemancing.
  • Pada hari berikutnya, takaran kroto dikurangi sedangkan jumlah voer ditambah.
  • Lanjutkan perawatan dengan mengurangi takaran kroto dan menambah jumlah voernya.
  • Setelah seminggu perawatan, voer basah diganti dengan voer halus kering sedangkan jumlah kroto sedikit demi sedikit mulai dikurangi sampai burung mau mengkonsumsi voernya tersebut.
  • Tanda-tanda burung sudah mau makan voer bisa dilihat dari bentuk kotorannya yang sudah padat, berwarna kehijauan, dan sedikit bercampur warna putih.
  • Setelah burung mau makan, voer halus diganti dengan voer yang biasa, sedangkan pemberian kroto masih tetap dilakukan namun menggunakan cepuk terpisah.

Selalu memberikan vitamin tambahan, karena vitamin, sangat penting untuk menjaga kondisi dan kesehatannya, khususnya mencegah burung stres dan tidak gampang sakit.

Berikan juga pakan tambahan atau EF lain seperti jangkrik, cacing tanah, atau serangga alami lainnya seperti orong-orong, belalang, dsb karena bisa membantu mencegah stres sekaligus sebagai sumber protein hewani yang dibutuhkannya.

Setiap pagi, burung diembunkan, lalu pada pagi hari setelah matahari terbit dimandikan dengan cara mandi karamba atau disemprot halus hingga basah kuyup dengan hand sprayer. Untuk penjemuran tetap dilakukan seperti biasa dengan menambah durasi penjemuran menjadi 2 jam.

Pada siang hingga sore hari, murai batu tersebut digantungkan berdekatan dengan burung-burung kecil yang gacor seperti kenari, pleci, ciblek, dan lainnya untuk memancingnya agar rajin bunyi.

Menjelang malam, burung difull kerodong sambil dilakukan pemasteran dengan suara-suara yang diinginkan.

Itulah beberapa tips dan perawatan murai batu bakalan agar sehat dan rajin bunyi.

Semoga bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *